Setiap budaya di dunia memiliki cara yang unik dalam memaknai kecantikan sejati. Apa yang dianggap indah di satu tempat belum tentu memiliki arti yang sama di tempat lain. Dari kulit cerah yang melambangkan kemurnian, hingga bentuk wajah dan postur tubuh yang mencerminkan status sosial atau harmoni dengan alam, standar kecantikan tumbuh dari nilai-nilai, tradisi, dan sejarah yang berbeda-beda.

Melalui keberagaman budaya yang ada, kita diajak untuk memahami bahwa kecantikan sejati bukan sekadar persoalan penampilan luar. Ia adalah cerminan identitas, ekspresi diri, dan penghormatan terhadap akar budaya yang membentuknya. Dalam keragaman inilah kita menemukan makna yang lebih dalam—bahwa kecantikan sejati bersifat luas, beragam, dan tidak dapat diukur oleh satu standar tunggal.

 

Lotus Feet – Cina

Lotus feet adalah simbol keindahan dan kemakmuran dalam budaya Tiongkok kuno. Tradisi ini bermula pada abad ke-10 dan awalnya hanya dilakukan oleh perempuan bangsawan. Proses pembentukan kaki dilakukan sejak usia 4–7 tahun, dengan mematahkan dan melipat jari-jari kaki ke arah telapak, lalu dibebat erat menggunakan kain hingga membentuk kaki mungil sepanjang 7–9 cm.

Pembebatan berlangsung selama dua tahun dan membuat perempuan hanya bisa berjalan perlahan dengan tumit. Gaya berjalan berlenggak-lenggok ini dahulu dianggap anggun dan memikat. Meski kini telah ditinggalkan, lotus feet tetap menjadi bagian penting dalam sejarah standar kecantikan di Tiongkok.

 

Telinga Panjang, Suku Dayak – Indonesia

Suku Dayak, penduduk asli Pulau Kalimantan, memiliki tradisi unik yang berkaitan dengan konsep kecantikan wanita. Salah satu tradisi yang menonjol adalah memanjangkan daun telinga, yang dianggap sebagai simbol kecantikan dan kebanggaan budaya.

Tradisi ini dimulai sejak usia dini, di mana anak perempuan Suku Dayak akan mengenakan pemberat logam berbentuk lingkaran pada telinga mereka. Semakin panjang daun telinga yang dimiliki, semakin tinggi pula nilai kecantikannya di mata masyarakat. Selain sebagai standar kecantikan, anting-anting yang dikenakan juga mencerminkan status sosial seseorang dalam komunitas.

 

Leher Panjang, Suku Kayan – Burma

Di wilayah timur Burma, terdapat Suku Kayan yang dikenal dengan tradisi unik terkait standar kecantikan wanita. Sejak usia muda, para perempuan suku ini mulai mengenakan kalung logam berbahan kuningan di leher mereka. Seiring bertambahnya usia, jumlah kalung akan ditambah secara bertahap, menciptakan ilusi leher yang lebih panjang. Bagi masyarakat Kayan, leher yang panjang dianggap sebagai lambang kecantikan dan keanggunan.

Tradisi serupa juga ditemukan pada perempuan dari Suku Karen di Thailand (Negeri Gajah Putih), yang memiliki standar kecantikan sejenis. Meski terlihat ekstrem, praktik ini telah menjadi bagian dari identitas budaya dan simbol keindahan dalam komunitas mereka selama berabad-abad.

BACA JUGA: Tren Beauty No Mascara Look yang Mendominasi Area Asia dan Eropa